Sakit, aku merasakan sakit disekujur tubuhku, sakit yang benar2 sudah tak tertahankan, semuanya terasa gelap dalam pandanganku, tapi di penjuru hatiku ku merasakan sebentuk kebahagiaan, karena ku tau inilah saat terindah dalam hidupku, saat ku akan berjumpa dengan kekasihku. Entah sudah berapa dalam kerinduanku padanya, yang ku tau aku telah buktikan padanya ku mampu bertahan dengan berjuta puing-puing kenangan tentang aku dan kekasihku. Banyak hal yang ingin kutanyakan, sebanding dengan banyak hal yang ingin kuceritan, bagaimana kabarnya sekarang, masihkah dia sama seperti yang ku kenal dulu.
Ku masih menyimpan dengan baik semua memori tentang dirinya, ku juga masih menjaga rasaku hanya untuk dirinya. Meski terlalu banyak hari yang kulalui tanpa hadirnya.
Rasanya baru saja aku mengenalnya, terasa sangat singkat waktu yang ku lewati bersamanya, tiba-tiba perpisahan datang menyapa, dan mau tak mau aku harus ikhlaskannya.
Kadang masih terbayang manis sikapnya, hangat kasihnya, atau manja tingkahnya saat ingin diperhatikan. Terlalu indah untuk melupakan semua hal tentang dirinya. Terlalu sempurna rasaku padanya untuk dilewatkan. Rasa rindu kerap menyergap saat rangkaian memori itu tampak di imaji, tapi sekuat apapun rindu yang menyerang aku tak punyai kesempatan utuk bersamanya, atau pun sekedar melihat dirinya.
Andra Yudha, aku mengenalnya bertahun yang lalu saat ku masih jalani hidupku sebagai mahasiswa baru dikampus Arsitektur, dia adalah senior yang kukagumi, 2 tingkat di atasku. Siapa sangka rasaku berbalas, berawal dari bimbingan mengerjakan tugas yang sering diberikannya, berlanjut dengan sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Banyak fase kehidupan kampus yang ku lewati bersama hadirnya, banyak cerita terukir disana, meski kadang ada sandungan kecil semuanya tetap menjadi suatu rangkaian kisah yang harmoni.
Dua tahun setelah perkenalanku, dia menuntaskan pendidikannya, menyandang gelar ST dibelakang namanya, kami mulai membangun mimpi tentang masa depan yang kami ingini. Tidak lama memikul status pengangguran nasib baik berpihak padanya, kesempatan mengabdi sebagai seorang PNS diperolehnya, lalu mendapat penempatan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah di luar kota. Fase ini mulai mengubah ritme kehidupannya, memulai kehidupan sendiri disana demi sebuah mimpi yang sempat kami rangkai bersama. Memulai perjuangan di Senin pagi lalu kembali ke kotaku di Jumat siang untuk saling berbagi kisah yang dimiliki.
Saat jarak memisahkan sama sekali bukan pembatas bagi kami untuk tetap menjaga indahnya kisah yang telah terbangun. Di akhir minggu dia selalu ada untukku, sekedar mengomentari tugas-tugas studio ku atau menghabiskan waktu bersama untuk merefresh pikiran. Semua tetap terlihat istimewa melalui pandangan sederhanaku. Sikapnya tetap sama, dengan tingkat kedewasaan yang semakin bertambah. Tak ada keraguan di hatiku akan ketulusan dan kesetiaan yang dijanjikannya, karena akupun lakukan hal yang sama untuk dirinya.
Waktu berjalan semua berlalu sebagaimana seharusnya, sampai pada suatu peristiwa di pagi musim hujan itu. Peristiwa yang mengubah mimpiku, peristiwa yang membalikkan semua harapku, peristiwa yang tak pernah ku ingini terjadi di catatan kisahku.
Kegelisahan yang tak mau beranjak terus menemani aktifitasku di pagi itu, ku masih merapikan kertas-kertas gambarku saat nama Adit terlihat di layar handphoneku, suara yang sudah bercampur isakan menambah kencang degup jantungku, sebuah kabar yang sama sekali tak ku harapkan datang di pagi ini tiba-tiba meluncur dari bibir Adit.
Semuanya mendadak menjadi kelam, ditemani mama, aku langsung menuju rumah sakit, ku lihat Adit duduk tertunduk di depan ICU, Bunda malah tak mampu lagi untuk membuka matanya. Sedang kekasihku, dia ada di dalam, berjuang untuk mempertahankan hidupnya, tak ada yang bisa ku lakukan lagi, selain terus berucap doa agar Tuhan masih bermurah hati pada kami, agar Tuhan tidak merebut Andra dari kami. Dari Bunda yang sangat mengasihi, dari Adit yang tak ingin ditinggal abangnya, dan dari aku yang sangat menyayanginya. Tapi Tuhan rupanya tak berkenan kabulkan pintaku, Tuhan merebutnya, dan ku tak punya kuasa untuk menentangnya.
Kecelakaan motor di pagi yang basah itu membawa kekasihku pergi selama-lamanya, mematahkan semua mimpi yang telah terangkai indah, kekasihku tak mampu bertahan setelah dia dan motor kesayangannya jatuh ke sisi jembatan yang kondisinya tidak layak.
Semua orang yang menemuiku datang dengan kalimat-kalimat yang serupa, memintaku bersabar, memintaku ikhlas dan meyakinkan bahwa hidupku akan terus berjalan, bahwa mimpi-mimpiku akan tetap teraih meski kekasihku sudah tidak bersamaku lagi.
Meski berat aku tetap lanjutkan hidup, mulai merangkai mimpiku sendiri, mencoba untuk kuat bertahan meski hanya ditemani sejuta puing kenangan yang sempat tercipta saat masih bersama.
Aku menyelesaikan kuliahku di tahun ke empat, lalu mulai merajut karier sebagai seorang karyawati di sebuah Bank swasta. Semua berjalan wajar, ku nikmati kehidupanku dengan santai dan apa adanya.
Sampai akhirnya aku ada disini, disebuah kamar rumah sakit, kanker hati yang akhirnya membawaku kesini. Ku dengar suara mama menglafalkan kalimat-kalimat Ilahi, membimbing bibirku untuk mengiringinya. Kurasakan sakit yang semakin di sekujur tubuhku, sakit yang semakin tak tertahankan. Dan inilah saatnya, saat aku dan kekasihku akan bersama kembali, inilah saat terindah dalam hidupku saat malaikat menjemputku untuk menemani kekasihku di surga..
Gini terusanNa......